Apa
yang dikuatirkan oleh komunitas pelanggan air minum Jakarta (KOMPARTA), bahwa
penangangan air minum warga Jakarta yang telah diswastakan kepada pihak asing
tidak akan membawa manfaat banyak menampakan bukti-buktinya. Komparta, sejak
April 2003 melakukan gugatan kelas (class action)kepada
Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso (kala itu) dan berakhir Januari 2004 dengan
dikabulkannya sebagian gugatan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat kala itu, yaitu
agar Pemprop DKI Jakarta menunda kenaikan sampai batas tertentu dengan
melakukan perbaikan dan sosialisasi memadai.
Pengacara
KOMPARTA, JJ Amstrong Sembiring SH MH ditemui di Jakarta, Kamis (1/9)malam
mengatakan, saat ini privatisasi sudah bak perang terbuka di seluruh dunia.
Khusus
privatisasi air merupakan sebuah fenomena yang menakutkan, karena tidak ada
kehidupan kita yang bisa luput dari kebutuhan terhadap air.
Ia
mengatakan, bahwa betapa menderitanya warga Jakarta, sudah harga air mahal,
mutu air kadang kotor dan bercacing, eh sering pula mengalami seret air yang
disuplai. Pada kasus jebolnya tanggul di pintu air Kalimalang merupakan
pelajaran berarti bahwa ada ketidakberesan dalam pengelolaan air dengan
fenomena alam yang aneh, sementara tidak ada banjir mengapa harus jebol?
Bukankah orang asing terkenal dengan kecermatannya dalam menangani sesuatu
proyek dan bisnis dimanapun?
Akibat
jebol tanggul itu Rabu(31/8) malam, maka suplai air pelanggan Aetra menjadi
terganggu antara lain ada di Jakarta Utara meliputi kawasan mulai dari
perbatasan.
dan
seluruh wilayah di Jakarta Timur.
Perbaikan masih belum selesai. 2
Alat berat dikerahkan. 1 Crane terlihat disiagakan di lokasi. Arus lalu lintas
tampak padat dan tersendat. Kawasan ini yang semula dialihkan bagi pengendara
roda empat yang hendak menuju Bekasi, kini bisa dilalui lagi. Menurut Direktur
Operasional PT Aetra, Lintong Hutasoit, pelanggan PT Aetra Air Jakarta mulai
Jumat siang ini mulai dapat menikmati kelancaran setelah debit air ke instalasi
Pulogadung dan Buaran normal. Lintong mengatakan, Jumat pagi, di Buaran sudah
5.200 liter per detik, sudah normal untuk Buaran, demikian pula Pulogadung
3.100 liter per detik, normalnya 4.100 liter per detik. Ini lebih lumayan tadi
pagi cuma 2.000 liter per detik, bahkan kemarin sempat nihil alias habis total.
Sekali
lagi, apa yang dikuatirkan oleh komunitas pelanggan air minum Jakarta
(KOMPARTA), bahwa penangangan air minum warga Jakarta yang telah diswastakan
kepada pihak asing tidak akan membawa manfaat banyak menampakan bukti-buktinya.
Oleh karena itu, KOMPARTA menghimbau agar Gubernur DKI RD.Ing. Fauzi Bowo yang
dikenal sebagai “ahlinye” agar segera menghentikan kerjasama PAM dengan pihak
asing dan pengelolaan air bersih di Jakarta ditangani oleh putra bangsa
terbaik. Terus terang, KOMPARTA mempunya stok ahli air yang cukup banyak,
mereka antara lain mampu membuat air payau di daratan Kalimantan dan Sumatera
yang bertanah gambut dapat dijadikan air minum, bukan hanya air sekedar air
bersih seperti yang ada selama ini di Jakarta.

